Kesawan: Kota Tua yang Kembali Bernapas
Oleh: Zakaria Siregar
DULU, orang datang ke Kesawan karena harus. Ada tugas sekolah atau mahasiswa mengambil data penelitian.
Sekarang, orang datang ke Kesawan karena ingin. Perbedaannya tampak sederhana. Padahal di situlah letak perubahan besar sebuah kota. Beberapa tahun lalu jika melewati Jalan Ahmad Yani di pusat Kota Medan yang terlihat hanyalah deretan bangunan tua yang mulai kehilangan pesonanya.
Sebagian masih berdiri gagah, sebagian lain seperti menunggu waktu untuk dilupakan. Trotoar sempit, kendaraan saling berebut ruang dan pejalan kaki seolah hanya menjadi “tamu” di kotanya sendiri.
Kini suasananya berbeda. Lampu-lampu bergaya klasik menyala ketika senja datang. Kesawan bahkan sering menjadi lokasi sesi prewedding outdoor.
Orang berjalan santai tanpa tergesa-gesa. Muda-mudi duduk dan berswafoto disepanjang jalan. Anak-anak berlarian. Ada juga komunitas-komunitas yang berkumpul.
Wisatawan lokal dan mancenegara sibuk mengabadikan bangunan-bangunan tua dengan telepon genggam mereka. Aroma kopi, makanan khas hingga musik jalanan menjadi bagian dari pengalaman menikmati Kesawan.
Pertanyaannya selanjutnya, apakah revitalisasi memang berhasil? Atau kita hanya sedang menikmati wajah baru sebuah kawasan lama?
Beberapa literatur yang meneliti revitalisasi Kesawan membuktikan bahwa program revitalisasi bukan hanya mengubah bentuk fisik Kawasan tetapi juga mengubah cara masyarakat menggunakan ruang kota. Jalan yang dahulu hanya menjadi tempat kendaraan berlalu kini berubah menjadi ruang interaksi sosial, ekonomi, budaya serta wisata warga perkotaan (urban tourisme).
Inilah yang sering terlupakan ketika kita membicarakan pembangunan kota. Pembangunan Kota bukan sekadar kumpulan gedung. Kota adalah ruang kehidupan. Revitalisasi yang dilakukan pemerintah memang menghadirkan berbagai perubahan nyata. Jalur pedestrian diperlebar, kendaraan mulai dibatasi pada waktu tertentu, fasilitas pejalan kaki diperbaiki dan bangunan-bangunan bersejarah mulai memperoleh perhatian yang layak. Kesawan menjadi lebih ramah bagi manusia daripada kendaraan.
Namun keberhasilan revitalisasi sesungguhnya bukan terletak pada granit yang mengilap atau lampu hias yang indah. Keberhasilannya terlihat ketika ruang itu kembali dipenuhi manusia. Di banyak kota besar, ruang publik selalu menjadi indikator kualitas kehidupan kota. Contohnya saja Kota Tua Jakarta atau Jalan Braga di Kota Bandung. Kota yang sehat bukan hanya memiliki gedung pencakar langit melainkan juga memiliki ruang tempat masyarakat bisa berjalan kaki, bercakap-cakap, menikmati seni dan membangun relasi sosial. Dan Kesawan mulai bergerak ke arah itu.
Program car free day misalnya, telah mengubah ritme kehidupan kawasan. Dahulu Kesawan relatif sepi setelah jam kantor berakhir. Kini malam justru menjadi waktu paling hidup. Ratusan orang datang untuk untuk menikmati suasana kota Medan. Mereka berjalan tanpa terganggu kendaraan, menikmati kuliner lokal, berfoto di depan bangunan heritage atau sekadar duduk bersama keluarga. Fenomena ini menunjukkan satu hal penting. Orang sebenarnya selalu membutuhkan ruang bersama. Ketika ruang itu disediakan dengan baik, masyarakat akan mengisinya dengan aktivitas positif.
Pada gilirannya dampak ekonomi pun mulai terasa. Pelaku UMKM memperoleh lebih banyak pelanggan. Kedai kopi bermunculan. Kuliner kreatif berkembang. Bangunan lama yang sebelumnya kosong mulai menemukan fungsi baru. Pos Bloc Medan menjadi contoh bagaimana bangunan bersejarah tidak harus dibekukan sebagai museum tetapi dapat dihidupkan kembali sebagai ruang kreatif tanpa kehilangan identitas sejarahnya. Ini adalah bentuk pembangunan yang jauh lebih cerdas dibanding sekadar membangun gedung baru. Membangun tanpa menghapus sejarah dan tetap dalam konteks pelestarian budaya dan sejarah lokal.
Namun, setiap keberhasilan selalu membawa tantangan baru. Di berbagai kota, revitalisasi kawasan heritage sering melahirkan persoalan yang tidak kalah rumit. Ketika kawasan menjadi populer, harga sewa meningkat dan akhirnya pelaku usaha kecil mulai tersingkir. Bangunan bersejarah berubah menjadi bisnis semata. Aktivitas komersial perlahan mengalahkan nilai budaya. Ironisnya, kawasan yang ingin diselamatkan justru kehilangan jiwanya.
Kesawan tentu tidak kebal terhadap risiko tersebut. Tulisan ini sekedar mengingatkan bahwa meningkatnya aktivitas ekonomi dapat memunculkan konflik ruang, parkir liar, kepadatan pengunjung, tekanan terhadap bangunan cagar budaya, hingga tumpang tindih pemanfaatan ruang publik. Karena itu revitalisasi fisik harus diikuti tata kelola yang adaptif, partisipatif dan berkelanjutan.
Di sinilah pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Revitalisasi bukan proyek konstruksi. Revitalisasi adalah proses merawat kehidupan kota. Kesawan memiliki modal yang tidak dimiliki banyak kota lain. Ia menyimpan sejarah kota Medan, jejak kolonial, warisan arsitektur Tionghoa, budaya Melayu hingga keberagaman etnis yang telah hidup berdampingan selama lebih dari satu abad. Semua itu adalah aset yang tidak bisa dibangun dalam lima tahun, bahkan lima puluh tahun. Warisan seperti itu hanya bisa dijaga, bukan diganti.
Dalam konteks pariwisata modern, wisatawan tidak lagi hanya mencari tempat yang indah. Mereka mencari pengalaman. Mereka ingin mendengar cerita di balik bangunan tua. Mereka ingin merasakan denyut kehidupan masyarakat lokal. Mereka ingin menikmati kopi di sebuah gedung yang dahulu merupakan kantor pos berusia ratusan tahun. Mereka ingin pulang dengan cerita bukan hanya foto. Karena itu, masa depan Kesawan sesungguhnya tidak bergantung pada seberapa megah infrastruktur yang dibangun. Masa depannya ditentukan seberapa cepat Pemerintah Kota Medan berfikir dan bertindak untuk memastikan revitalisasi Kawasan kesawan tidak salah arah.
Pemerintah memang dapat membangun trotoar. arsitek dapat merancang ruang. Investor dapat membuka usaha. Namun yang membuat sebuah kawasan hidup adalah manusianya. Kesawan telah memperoleh kesempatan kedua. Sebelumnya, tahun 2003 ada Kesawan Square yang akhirnya menghilang tanpa jejak. Sekarang kesawan mulai kembali bernafas. Tantangannya bukan lagi menghidupkan kawasan yang mati. Melainkan memastikan kawasan yang telah hidup itu tidak kehilangan jiwanya. Sebab kota yang besar bukanlah kota yang mampu membangun gedung tertinggi. Melainkan kota yang mampu menjaga ingatan kolektif warganya sambil tetap memberi ruang bagi masa depan. Dan disanalah Kesawan sedang menuliskan babak barunya. (MK/Sdf)
(Penulis adalah dosen UISU dan Ketua Yayasan Gempita Kreasi Indonesia)