Kekuasaan yang Menjaga, Keadilan yang Menentramkan  

Renungan dari Sukoharjo dan Medan

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

UKURAN keberhasilan kekuasaan juga dapat dibaca dari hati masyarakat: apakah mereka merasa terlindungi, didengarkan, dan diperlakukan dengan adil?

Ketika persoalan muncul, masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah yang menenteramkan. Kehadiran yang mampu menegakkan aturan sekaligus menjaga kehormatan manusia. Sebab ketertiban akan sulit bertahan apabila di dalamnya tersimpan ketakutan, dan kerukunan akan mudah retak apabila keluhan dibiarkan tanpa penyelesaian.

Peristiwa di Sukoharjo dan polemik penataan penjualan daging babi di Medan, meskipun berbeda konteks, mengingatkan kita pada tanggung jawab yang sama: menjaga kehidupan bersama dengan kejernihan pikiran, keberanian moral, dan kelembutan hati.

Di balik setiap perkara ada manusia. Di balik setiap keputusan ada kehidupan yang ikut dipengaruhinya.

Penggerebekan Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an di Sukoharjo menyisakan pertanyaan yang perlu dijawab secara objektif. Pihak pesantren menyampaikan dugaan perlakuan intimidatif terhadap santriwati, sementara kepolisian menjelaskan bahwa penggeledahan berkaitan dengan penyidikan perkara pembakaran dan perusakan warung serta didasarkan pada izin pengadilan. Perbedaan keterangan itu memerlukan pemeriksaan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

Komnas HAM meminta evaluasi dengan perhatian terhadap perlindungan anak dan perempuan. Polri pun menyatakan akan mendalami keluhan melalui mekanisme pengawasan internal. Langkah ini perlu dikawal sebagai ikhtiar menemukan kebenaran dan memperbaiki keadaan.

Kita tentu berharap setiap tindak pembakaran, perusakan, dan ancaman diusut dengan sungguh-sungguh. Pemilik usaha berhak mendapat perlindungan, apa pun agama dan latar belakangnya. Pada saat yang sama, setiap orang yang diperiksa tetap mempunyai kehormatan dan hak untuk diperlakukan secara layak.

Terlebih apabila proses itu menyentuh kehidupan anak-anak.

Orang dewasa mungkin dapat menjelaskan sebuah tindakan dengan bahasa operasi dan prosedur. Seorang anak belum tentu mampu memahaminya. Ia mungkin hanya mengingat suara keras, wajah-wajah asing, dan rasa takut yang datang tiba-tiba.

Jangan sampai sebuah pemeriksaan telah selesai dalam berkas, tetapi belum selesai dalam ingatan seorang anak.

Karena itu, pemulihan rasa aman patut menjadi bagian dari penyelesaian. Mendengarkan pengalaman mereka, menyediakan pendampingan, dan membantu mereka kembali belajar dengan tenang adalah pekerjaan yang tidak boleh dianggap kecil.

Dalam setiap penegakan hukum, penghormatan terhadap keyakinan dan kehormatan pribadi perlu mendapat perhatian.

Jilbab, cadar, dan nama pesantren tidak dapat menggantikan pembuktian atas suatu perbuatan. Begitu pula seragam aparat tidak boleh menjadi alasan untuk menghakimi seseorang tanpa pemeriksaan.

Keadilan meminta kita melihat tindakan dan bukti secara jernih.

Bagi seorang perempuan beriman, menutup aurat menyangkut ketaatan dan kehormatan dirinya. Kebutuhan itu perlu dihormati dalam pelaksanaan pemeriksaan yang sah. Apabila muncul dugaan perlakuan yang merendahkan pakaian atau simbol keagamaan, dengarkan dengan serius dan periksa secara adil.

Kepedulian terhadap hal ini merupakan bagian dari kecermatan menjalankan amanah di tengah masyarakat yang beragama.

Ketegasan akan lebih berwibawa ketika manusia tetap merasa dihormati di hadapannya.

Pelajaran tentang kehadiran pemerintah juga terasa dekat dalam polemik penataan penjualan daging babi di Medan.

Pemko Medan telah menjelaskan bahwa kebijakannya menyangkut penataan lokasi dan pengelolaan limbah penjualan daging nonhalal, bukan pelarangan berdagang. Penjelasan ini penting agar persoalan ketertiban dipahami secara tepat dan tidak bergeser menjadi pertentangan identitas maupun agama.

Namun, penjelasan perlu diteruskan menjadi penyelesaian yang nyata.

Pedagang membutuhkan kepastian tempat dan kesempatan mencari nafkah sesuai ketentuan. Warga membutuhkan lingkungan yang bersih, tertib, dan nyaman. Pemerintah perlu mempertemukan kebutuhan-kebutuhan itu melalui aturan yang jelas, fasilitas yang layak, dialog yang sungguh-sungguh, serta pelaksanaan yang konsisten.

Jangan membiarkan ketidakpastian tumbuh menjadi prasangka. Ketika keluhan tidak memperoleh jawaban, orang mudah merasa diabaikan. Ketika aturan tidak jelas pelaksanaannya, masyarakat mudah saling menuduh.

Wibawa pemerintah tumbuh ketika warga mengetahui ke mana harus mengadu dan percaya bahwa pengaduannya akan ditangani dengan adil.

Medan adalah rumah bersama. Tidak seorang pun semestinya merasa menjadi orang asing di kotanya sendiri. Perbedaan keyakinan dan kebiasaan hidup perlu dikelola dengan saling menghormati, disertai kesediaan menaati ketentuan yang menjaga kepentingan bersama.

Kita perlu menutup celah gesekan sejak awal, sebelum keresahan berubah menjadi pertengkaran dan sebelum warga merasa harus mengambil tindakan sendiri.

Di sinilah para pemegang amanah diuji.

Ada keadaan yang membutuhkan ketegasan. Ada keadaan yang membutuhkan kesabaran untuk mendengar. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan menempatkan keduanya secara tepat.

Kewenangan perlu dijalankan dengan keberanian yang terukur. Jangan sampai keinginan menunjukkan kekuatan membuat kita kurang mendengar. Jangan pula kekhawatiran kehilangan dukungan membuat keputusan yang diperlukan terus ditunda.

Jabatan membawa tanggung jawab untuk melindungi kepentingan bersama, termasuk ketika keputusan yang adil terasa tidak populer.

Allah memerintahkan dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang beriman menegakkan keadilan, sekalipun kesaksian itu memberatkan diri sendiri atau orang-orang terdekat.

Pesan ini mengajak kita memeriksa keberpihakan sendiri. Apakah kita masih bersedia menerima kebenaran ketika ia tidak menguntungkan kelompok kita? Apakah kita tetap membela hak seseorang ketika kita tidak menyukai pandangannya?

Keadilan menjadi nyata ketika ukuran yang sama tetap kita gunakan, meskipun perasaan kita berbeda.

Pemerintah, petugas keamanan, dan tokoh agama mempunyai peran yang saling melengkapi.

Pemerintah menyediakan arah kebijakan, kepastian penyelesaian, dan pelayanan yang menjangkau semua pihak. Petugas keamanan menjaga keselamatan dengan tindakan yang proporsional serta komunikasi yang menghormati masyarakat. Tokoh agama mendampingi umat, menjernihkan pemahaman, dan membantu merawat kepercayaan.

Kerja sama itu perlu hadir sebelum keadaan memanas.

Duduklah bersama ketika keberatan mulai terdengar. Dengarkan pedagang, warga, pengelola lembaga, orang tua, dan pihak-pihak yang terdampak. Jelaskan dasar tindakan dengan bahasa yang dapat dipahami. Bila ada kekeliruan, perbaikilah. Bila ada pelanggaran yang terbukti, tangani secara adil.

Kesediaan mengoreksi diri akan memperkuat kepercayaan. Permintaan maaf yang tulus dapat membuka jalan pemulihan. Ketegasan yang disertai penjelasan dapat membantu masyarakat menerima keputusan yang berat.

Tokoh agama pun perlu menjaga agar pembelaan terhadap umat tetap berpijak pada kejujuran. Dengarkan pengaduan tanpa tergesa menetapkan kesalahan. Sampaikan kritik tanpa merendahkan. Ajak masyarakat menempuh penyelesaian yang damai dan bermartabat.

Masyarakat juga mengambil bagian dengan memeriksa informasi sebelum membagikannya, menjaga lisan, serta menolak intimidasi dan tindakan main hakim sendiri.

Kerukunan tumbuh ketika setiap orang bersedia menjaga hak orang lain, termasuk hak orang yang berbeda dengannya.

Sukoharjo dan Medan hendaknya menjadi ruang belajar bagi kita semua.

Belajar bahwa penegakan hukum memerlukan ketelitian dan kemanusiaan. Belajar bahwa aturan membutuhkan pelaksanaan yang jelas. Belajar bahwa luka perlu didengarkan, keresahan perlu ditangani, dan perbedaan perlu dirawat dengan kebijaksanaan.

Kita tidak perlu menunggu keadaan memburuk untuk saling mendekat.

Seorang pemimpin dapat memulai dengan mendengar. Seorang petugas dapat memulai dengan menjelaskan. Seorang tokoh agama dapat memulai dengan menenangkan. Seorang warga dapat memulai dengan menahan prasangka.

Dari langkah-langkah itulah kepercayaan dibangun kembali.

Pada akhirnya, semua amanah akan kita pertanggungjawabkan kepada Allah. Jabatan akan berakhir, seragam akan ditanggalkan, dan pengaruh akan berkurang. Namun, kebaikan yang kita hadirkan serta hak manusia yang kita jaga akan tetap mempunyai nilai di hadapan-Nya.

Semoga Allah memberi para pemimpin kita kejernihan dalam mengambil keputusan, para petugas kita kebijaksanaan dalam bertindak, para tokoh agama kita ketulusan dalam membimbing, dan masyarakat kita kelapangan untuk hidup bersama.

Selagi amanah masih berada di tangan, jadikanlah ia sebab orang lain merasa aman. Sebab kelak, yang kita perlukan di hadapan Allah adalah jawaban atas bagaimana kita memperlakukan manusia.

Oleh: Ust Abdul Latif Khan