INI bukan dongeng, tapi fakta bahwa masih ada daerah di Provinsi Sumatera Utara yang sangat dan sangat tertinggal.
Bahkan untuk menempuh jarak 12 Km membutuhkan waktu hingga 10 jam menggunakan mobil double gardan.
Itulah waktu tempuh dari Sipiongot, ibu kota Kecamatan Dolok menuju Desa Sibiobio di Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta).
Dalam logika jalan normal, jarak 12 Km bisa ditempuh kurang dari 30 menit. Bahkan pesepeda yang terlatih mungkin mampu menyelesaikannya dalam waktu satu jam.
Berdasarkan data BPS, Kecamatan Dolok secara geografis di bagian Utara berbatasan dengan Kecamatan Dolok Sigompulon, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Halongonan dan Kabupaten Padang Lawas.
Dengan luas wilayah sekitar 52.527 Ha, desa Pasar Sipiongot desa terluas dan penduduk terbanyak.
Setidaknya ada 8 (delapan) desa di wilayah Kecamatan Dolok merupakan daerah landai dan sisanya sebanyak 78 desa merupakan daerah berbukit, termasuk Desa Sibiobio.
Saya membayangkan jarak 12 kilometer di kota besar mungkin hanya 15 atau 20 menit perjalanan dengan motor.
Tidak perlu bekal makanan. tidak perlu strategi dan rencana yang luar biasa dan tidak perlu keberanian. Tapi semua berbeda.
Penulis berkesempatan merasakan dan melihat langsung kondisi infrastruktur yang istilah sebagian orang sudah mendekati ‘padang mahsyar’ itu awal Mei lalu.
Berangkat dari Sipiongot pukul 14.00 WIB tiba pukul 22. 00 di Desa Sibiobio.
Mobil yang digunakan juga bukan mobil biasa, double gardan. Kendaraan yang dirancang untuk medan berat dan dianggap mampu menaklukkan jalan-jalan ekstrem.
Tetapi sore itu teknologi dan tenaga mesin seperti tidak begitu banyak berguna, karena Jalan yang dilalui lebih menyerupai jalur perjuangan daripada akses transportasi, yang dibutuhkan adalah skill dan doa pengemudi.
Tanjakan panjang bergantian dengan turunan curam, batu-batu besar tersebar di sepanjang lintasan, dan lumpur menguasai badan jalan hingga menutupi sebagian besar kendaraan.
Beberapa kali kendaraan harus ditarik mobil lain. Di titik-titik tertentu, warga bahkan memiliki cara tersendiri yang unik menghadapi lumpur di jalan dengan menaburkan dedak (semacam sekam padi) ke permukaan jalan.
Bukan material konstruksi. bukan batu koral. bukan aspal. Dedak yang biasanya menjadi pakan ternak justru menjadi penyelamat kendaraan. Pemandangan itu mengundang pertanyaan sederhana: apakah Sipiongot masih Indonesia?
Saya membayangkan bagaimana jika yang melintas bukan mobil double gardan?
Bagaimana jika masyarakat membawa hasil pertanian dengan kendaraan biasa?
Bagaimana jika ada ibu hamil yang harus segera mendapatkan pertolongan medis atau anak sekolah yang harus berangkat setiap hari. Pemanfaatan kuda sebagai alat transportasi di Sipiongot bukan cerita dongeng.
Berdasarkan penuturan masyarakat, hingga tahun 2015 masyarakat masih menggunakan kuda sebagai alat trasnportasi.
Memang ironis. di era ketika Indonesia berbicara tentang transformasi digital, kecerdasan buatan dan pembangunan berkelanjutan, masih ada warga negara ini yang harus menabur dedak agar bisa kendaraanya dapat melintasi jalan.
Berbagai kajian penelitian menunjukkan bahwa keterisolasian akibat buruknya infrastruktur jalan berkontribusi terhadap tingginya biaya distribusi, rendahnya akses pelayanan publik, serta lambatnya perkembangan ekonomi desa.
Ketika jalan rusak, harga kebutuhan pokok menjadi mahal dan hasil pertanian sulit dipasarkan hingga mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Kabar gembiranya adalah proyek pembangunan infrastruktur kini sedang berjalan.
Masyarakat berharap janji pemerintah provinsi Sumatera Utara yang akan menuntaskan pembangunan ruas jalan bulan Desember tahun ini terwujud. Cerita kehadiran Gubsu Bobby Afif Nasution yang langsung melihat dan merasakan kondisi jalan provinsi Maret 2026 lalu kini menjadi harapan bagi masyarakat setelah puluhan tahun seakan-akan tidak pernah merasakan kehadiran pemimpin.
Mobil Gubsu Bobby Afif Nasution yang harus di derek karena tidak bisa melintas, Gubsu Bobby Afif Nasution yang mengendarai sendiri kendaraanya. Gubernur Sumut beserta rombongan harus mendirikan tenda di sungai saat meninjau kondisi jalan.
Semuanya menjadi buah bibir dan cerita haru dan harap di tengah-tengah masyarakat.
Berdasarkan hasil penelusuran penulis, ada 3 (tiga) ruas jalan provinsi yang kini sedang dalam proses pengerjaan.
Ketiga ruas jalan itu meliputi; Ruas jalan Hutaimbaru – Sipiongot: Sepanjang 11 km, ruas jalan Sipiongot – Labuhanbatu: Sepanjang 16 km, dan ruas jalan Sipiongot – Tolang (Batas Tapanuli Selatan) Sepanjang 16 km.
Saat ini, masyarakat Sipiongot sudah bisa tersenyum melihat alat berat dan para pekerja hilir mudik untuk percepatan pembangunan ruas jalan di Sipiongot.
Bukan tidak mungkin, nama Bobby Afif Nasution bakal dinominasikan menjadi nama jalan jika pembangunan ruas jalan ini sukses dan tepat waktu.
Harapannya warga cuma satu, masyarakat ingin merasakan pembangunan seperti halnya daerah lain.
Sebab ukuran pembangunan tidak selalu terlihat dari gedung megah, bandara baru atau jalan tol yang membentang ratusan kilometer. Ukuran pembangunan justru terlihat dari kemampuan seorang petani membawa hasil panennya ke pasar, anak-anak pergi ke sekolah dengan aman dan warga mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus mempertaruhkan nyawa di jalan berlumpur.
Jalan bukan sekadar infrastruktur karena jalan adalah urat nadi kehidupan.
Ketika urat nadi itu rusak, ekonomi ikut tersendat, pendidikan ikut terhambat, pelayanan kesehatan menjadi mahal akhirnya harga kebutuhan pokok meningkat karena biaya transportasi membengkak hingga mempengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Pastinya, hari itu saya memahami bahwa pembangunan sejatinya bukan persoalan pembagunan ratusan kilometer jalan tol, melainkan jalan dua belas kilometer yang belum tersentuh pembangunan secara layak dan harus ditempuh selama 10 jam.
(Penulis adalah dosen UISU/Ketua Yayasan Gempita Kreasi Indonesia)