Menu

Mode Gelap

Sumut · 23 Jun 2022 14:18 WIB

Pelaku UMKM Sumut Bertahan di Tengah Terjangan Pandemi


					Pengrajin UMKM di Sumut mampu bertahan di tengah pandemi. | Foto: dok marves Perbesar

Pengrajin UMKM di Sumut mampu bertahan di tengah pandemi. | Foto: dok marves

Medankinian.com, Medan, Pandemi Covid-19 telah mengubah dunia, hampir semua lini dan sektor kehidupan berubah serta terdampak oleh wabah virus menular itu. Tak terasa pandemi sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya dan kita dituntut harus bisa bertahan dan membiasakan diri dengan adaptasi kebiasaan baru, termasuk menerapkan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai salah satu motor penggerak pariwisata lokal di setiap daerah, dampak pandemi juga terasa di sektor pariwisata, khususnya usaha UMKM. Pemerintah, pelaku usaha, dan pelaku UMKM harus memutar otak dan berinovasi agar sektor pariwisata tidak mati.

Besarnya dampak negatif dari pandemi tak menyurutkan semangat dan perjuangan para pelaku UMKM di Indonesia. Potret inilah yang terlihat di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Banyak pelaku UMKM yang tetap optimis bisa melewati pandemi dengan tetap mampu bertahan dan bangkit dari keterpurukan yang ada karena pandemi.

Salah satu UMKM yang tetap bertahan dan berjuang saat pendemi ialah Deli Maya Sari Handicraft. Produk sulaman kerajinan tangan ini masih tetap bisa bertahan menjalankan bisnisnya.

“Usaha ini dimulai sejak 1976, awal mulanya dari kecintaan kepada kerajinan tangan, khususnya strimin kristik. Lambat laun berkembang dan kita teruskan, terus berkembang hingga saat ini,” kata Pengelola sekaligus Deli Maya Sari Handicraft, Aji di Medan, pekan kedua Juni 2022.

Aji menceritakan kisahnya selama pandemi, sejak itu banyak perubahan dan dampak yang dirasakan dalam menjalankan usahanya. Mulai pemasaran yang sulit, minimnya omzet, dan minimnya pengunjung yang datang langsung untuk membeli produk, sehingga otomatis berdampak langsung pada kelangsungan usahanya.

Kendati demikian, Aji dan manajemennya tetap semangat dan yakin bisa bertahan bahkan bangkit dari kondisi sulit ini. Seiring berjalannya waktu meskipun masih pandemi usahanya masih tetap berjalan dengan baik. “Sekarang pembelinya sudah lebih banyak online. Omzetnya 5 juta-an rupiah per hari,” ungkapnya.

Sebelum pandemi melanda, pengunjung yang datang ke tokonya dalam sehari bisa mencapai 30 orang dan turun saat pandemi. Namun demikian, kondisi ini tidak menghalangi para pecinta kerajinan strimin kristik yang datang langsung. Artinya tetap saja ada pelanggan yang datang membeli produk yang dipasarkan.

“Kadang-kadang satu rombongan, selalu ada aja,” beber Aji penuh semangat.

Jatuh bangun dan tetap bertahannya UMKM Deli Maya Sari Handicraft ini bukan tanpa alasan. Aji menyebutkan salah satu alasan usahanya tetap bisa bertahan hingga saat ini karena kualitas kerajinan kualitas produk yang dijaga dengan baik. Teknik pembuatan atau pengerjaan produk dan mutu menjadi perhatian utama. Tak heran jika banyak pelanggan mengakui kualitas produk ini dengan sangat baik dan berkualitas tinggi.

Hingga pada tahun 80-an usahanya ini memperoleh penghargaan oleh Presiden kala itu. “Tahun 1986 kita sudah dapat penghargaan dari Presiden Soeharto,” katanya.

Bisnis kerajinan sulaman Deli Maya Sari Handicraft dirintis sejak 1976 oleh Tiurlan T. Siahaan yang dikenal sudah mencintai kerajinan ini sejak kecil. Seiring waktu, usaha sulaman terus berkembang dan menunjukkan konsistensi hingga akhirnya dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas Medan yang menjual ragam benda sulaman indah karya dari tangan-tangan terampil.

“Untuk jenis produk yang dihasilkan banyak, semua yang bersinggungan langsung dengan kaum ibu-ibu atau IRT sudah bisa dibuat semuanya. Tudung saji, sandal, sajadah, celemek masak juga sudah bisa buat. Kalau jenisnya ada sekitar 50,” rincinya.

Meskipun usaha Deli Maya Sari Handicraft ini sudah mampu bertahan dan berjalan selama 46 tahun lamanya, Aji menyadari betul bahwa pihaknya membutuhkan “sentuhan” dan perhatian pemerintah. Ia berharap kepada pemerintah agar memberikan perhatian serius dan dorongan nyata kepada pelaku usaha dan UMKM agar bisa terus berkembang dan maju lebih pesat lagi. Atau istilah kerennya “naik kelas”.

Akhirnya, maju dan berkembanganya UMKM di Indonesia akan mampu berkontribusi untuk menggerakan perekonomian daerah maupun nasional. Seperti yang digaungkan dan diharapkan pemerintah saat ini.

“Tantangan dan kendala yang dihadapi UMKM banyak sekali memang, selain kita harus berdiri sendiri walaupun di bawah binaan dinas terkait, namun tetap saja kita harus kembangkan sayap sendiri,” ujarnya.

Aji juga menceritakan keluh kesahnya saat pandemi melanda, berbagai tantangan harus ia lalui untuk meneruskan usaha dan hidupnya.

“Tantangannya lebih ke pemasaran sih, gimana caranya menjual produk-produk yang sudah kita hasilkan itu. Karena produk kerajian tangan susah pemasarannya dan berbeda dengan brand yang sudah terkenal padahal biasa-biasa aja,” tuturnya.

Hingga saat ini sudah puluhan jenis kerajinan strimin kristik yang dihasilkan oleh usaha Deli Maya Sari Handicraft. Sebut saja tas, dompet, alas meja, tudung saji, telekung, dan banyak lainnya. Untuk urusan harga produk, wisatawan atau calon pembeli tidak perlu khawatir, pasalnya harganya masih sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp20.000 hingga jutaan rupiah sesuai jenis produknya.

Cerita menarik dan inspiratif lainnya datang dari UMKM bernama Markisa Noerlen. Sesuai dengan namanya, usaha ini menghasilkan produk-produk olahan berbahan baku buah markisa.

Markisa Noerlen dirintis pada tahun 1985 dan nama Noerlen sendiri diambil dari sang pendiri, Hj Noerlen. Dalam perjalanannya hingga kini, Markisa Noerlen sudah menjadi pusat oleh-oleh yang sangat legendaris di kota Medan.

“Ini awalnya dari Ibu Noerlen, ibu saya, sekitar 1985 usaha markisa ini dimulai. Dulu masih iseng-iseng, ibu senang kasih oleh-oleh, waktu itu salah satu keponakannya berkomentar ini markisa sangat enak, kenapa tidak dibisniskan. Begitulah awalnya usaha ini dimulai,” kata Riswan, anak keempat dari almarhum Noerlen, mengawali perbincangan.

Sejak perintis usaha Markisa Noerlen ini meninggal, usaha UMKM rumahan ini kini diteruskan oleh Riswan bersama saudara-saudaranya. Hingga kini sudah ada beberapa jenis produk yang dihasilkan dan dipasarkan, seperti sirup markisa, selai markisa, sari markisa, minuman markisa polos, dan minuman markisa bulir.

“Kita enggak pakai bahan pangawet, pewarna, dan perasa buatan,” kata pria yang akrab disapa Bang Iwan ini.

Iwan mengungkapkan bahwa selain konsisten mejaga kemurnian rasa markisa yang alami, kunci lainnya yang membuat usaha ini tetap mampu bertahan, walau diterjang pandemi sekalipun, ada pada sisi konsitensi. Konsistensi yang diwariskan sang pemula, yakni ibunya sendiri alamarhumah Noerlen.

“Dari mulai ibu saya dan hingga sekarang, produk ini tidak berubah dan konsisten dengan mutunya, baik bahan hingga cara pembuatannya,” ungkapnya.

Selain itu, Iwan sadar dan mengamini bahwa keyakinan yang kuat juga menjadi kunci utama usaha keluarganya ini terus bertahan hingga saat ini. Usaha Markisa Noerlen ini sudah bertahan di usia 37 tahun dan terus menunjukkan konsistensinya yang tak lekang digerus waktu.

“Kunci untuk bertahan, kita harus yakin dengan produk kita dan kita tetap konsisten,” sambung pria kelahiran Pematangsiantar, 10 Juni 1963 ini.

Bicara pandemi, Iwan menuturkan usaha yang dijalankan memang terdampak. Kendati demikian, ia tak risau dan tak mau menyerah begitu saja, ia tetap optimis dan yakin bisa melalui hambatan ini.

Salah satu dampak paling dirasakan ialah pendapatan yang berkurang efek dari pembatasan-pembatasan yang diterapkan pemerintah karena alasan kesehatan saat pandemi. Namun seiring perjalanan waktu, usaha Markisa Noelren masih mampu bertahan dan melaluinya, apalagi kini penjualannya sudah mununjukkan peningkatan dan perbaikan baik omzet maupun jumlah pengunjung yang datang langsung.

“Sudah ada peningkatan meskipun belum kembali kepada titik sebelum pandemi terjadi, sekarang tidak sepi lagi,” imbuhnya.

Sejak beberapa pekan terakhir, Iwan mengatakan sudah banyak pengunjung yang datang langsung ke tokonya, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Selain penjualan langsung di toko, strategi pemasaran juga dilakukan secara daring dan tak sedikit pula yang memesan berbagai produk yang dipasarkan usaha Markisa Noerlen.

“Pembelinya dari Jakarta, Bandung, Makassar, dan lain-lain. Kalau pengunjung dari luar negeri ada dari Malaysia, Singapura, Jepang, Polandia, Jerman, Inggris, AS, lengkap sudah semuanya. Kita bukan hanya sekedar menjual ini, tapi juga sebagai tempat destinasi wisata edukasi pembuatan sirup markisa. Kalau enggak ada orang beli tidak apa-apa, tapi kita tetap edukasi yang datang,” tandasnya.

Begitulah kisah Aji dan Iwan yang dibagikan kepada tim Kemenko Marves saat mengulik UMKM di kota Medan beberapa waktu lalu. Melalui kisah ini, diharapkan dapat memberikan motivasi dan rasa optimis untuk membangkitkan kembali perekonomian Indonesia, khususnya pada sektor pariwisata melalui pelaku UMKM.

 

(Mk/sdf)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Kakek Muhadi 30 Tahun Terdampar di Labuhan Batu Akhirnya Dipulangkan

29 Juni 2022 - 20:03 WIB

Satpolair Patroli Perairan Cegah Peredaran Gelap Narkoba & PMI

29 Juni 2022 - 16:13 WIB

Pembunuh dan Pemerkosa Siswi SMP di Langkat Ditangkap! Lihat Tampangnya

28 Juni 2022 - 14:31 WIB

Damkar Tanjungbalai Tangkap Ular Sanca Sepanjang 3 Meter yang Mangsa Ternak Warga

27 Juni 2022 - 19:23 WIB

Sakit Tak Kunjung Sembuh, Janda Di Simalungun Akhiri Hidup dengan Minum Racun Hama

27 Juni 2022 - 12:36 WIB

Kunjungi Rumah Adat Puri Melayu Sri Menanti, Sandiago Membatik Khas Tebing Tinggi

25 Juni 2022 - 19:14 WIB

Trending di Sumut