Menu

Mode Gelap

Ekonomi Bisnis · 30 Mar 2022 23:54 WIB

Tahun 2021, Perekonomian Sumut Tumbuh 2,61 Persen


					Tahun 2021, Perekonomian Sumut Tumbuh 2,61 Persen Perbesar

Medankinian.com, Medan– Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) tumbuh gradual dan lebih tinggi dari periode sebelumnya. Sejalan dengan nasional, ekonomi Sumut pada triwulan IV 2021 tumbuh 3,81% (yoy) dan secara keseluruhan tahun 2021 tumbuh 2,61% (yoy).

“Perkembangan tersebut didorong oleh kondisi pandemi yang relatif terkendali, tren pemulihan ekonomi global dan masih berlanjutnya stimulus fiskal hingga akhir tahun 2021. Proses pemulihan pun terus berlanjut di tahun 2022 meski masih berjalan secara gradual,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (BI Sumut), Doddy Zulverdi pada Bincang Bareng Media (BBM) di Kantor BI Sumut, Jalan Balaikota Medan, Selasa (29/3).

Ia menuturkan, perekonomian Sumut tahun 2022 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari tahun 2021 dalam kisaran 3,7% sampai dengan 4,5%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi masyarakat seiring dengan pemulihan ekonomi dan berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, insentif PPN-DTP dan diskon PPnBM secara bertahap hingga September 2022.

“Namun, perlu diwaspadai sejumlah faktor yang dapat menahan pertumbuhan, seperti konflik geopolitik internasional karena sikap investor yang wait and see serta cenderung berinvestasi kepada aset safe haven,” tandasnya.

Disebutkannya, faktor-faktor yang mendorong bias atas diantaranya, pulihnya pendapatan masyarakat yang lebih kuat seiring dengan pemulihan ekonomi akan medorong konsumsi dan peningkatan investasi, namun berpotensi pada kenaikan tekanan inflasi.

“Kemudian, berlanjutnya program PEN seperti KUR 3%, insentif bantuan tunai, insentif PPN-DTP dan diskon PPnBM secara bertahap hingga September 2022. Lalu, adaptasi kenormalan baru yang diikuti dengan mobilitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata mendorong multiplier efek kepada sektor lain yang lebih luas serta kenaikan pagu anggaran seiring dengan optimisme pemerintah untuk melakukan penyerapan belanja modal dan belanja operasi yang lebih cepat dan lebih besar,” pungkasnya.

Sedangkan, faktor-faktor yang mendorong bias bawah diantaranya, merebaknya varian baru Covid-19 serta konflik geopolitik yang berkepanjangan dapat kembali mengganggu rantai pasokan global.

“Faktor lainnya, konflik geopolitik yang perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan sikap investor yang wait and see dan cenderung berinvestasi kepada aset safe haven. Serta belum optimalnya produksi TBS pada semester I 2022 akibat lebih panjangnya pengaruh dampak tunda kekeringan yang terjadi pada 2019,” katanya.

 

(Mk/sdf)

Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Ajang Indonesia City Expo APEKSI di Padang, Bobby Nasution Borong Produk UMKM

9 Agustus 2022 - 14:40 WIB

Ekonomi RI Bertumbuh Walau Inflasi Global Meningkat Akibat Perang Rusia vs Ukraina

26 Juli 2022 - 16:27 WIB

Harga Cabai Tak Kunjung Turun, KPPU: Pedagang Besar Jangan Mainkan Harga!

26 Juli 2022 - 15:17 WIB

Ini Keputusan yang Diambil pada RDG BI

22 Juli 2022 - 07:01 WIB

Industri Kecil di Medan Dilatih Membatik

15 Juli 2022 - 14:09 WIB

Currency Bisa Jadi Alat Tukar uang Sah

13 Juli 2022 - 18:50 WIB

Trending di Ekonomi Bisnis