INALUM, Jejak Kelam dan Senyum yang Tercipta di Lembar Cerita Pantai Sejarah
PANTAI SEJARAH dulunya hanya sebuah tampilan hamparan pasir putih yang tak terawat dan bahkan terabaikan.
Pantai ini juga memiliki reputasi buruk dengan nama suram yang disematkan warga sekitar, yakni ‘Pantai Maksiat’.
Di pantai ini berdiri pondok itik-itik atau lokasi yang kerap dijadikan sebagai tempat minum, berjudi, hingga kegiatan maksiat lainnya.
Sebuah hamparan pantai yang menorehkan jejak kelam. Pasir dijual, pohon ditebang, abrasi parah dan yang tersisa lumpur hitam dan cerita pahit masa lampau.
Tapi itu cerita lalu, pantai yang berlokasi di Desa Perupuk, Lima Puluh, Batubara ini telah menjelma dan menghadirkan senyum di setiap lembar ceritanya.
Senyum itu berawal dari hadirnya PT INALUM. Sebagai perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif dan pengolahan aluminium, INALUM yang menjalankan pengelolaan lingkungan sesuai regulasi pemerintah, menyulap kawasan yang awalnya tak bernilai menjadi ‘tambang emas’ bagi warga sekitar.
Melalui kolaborasi apik lintas disiplin ilmu, program itu dimulai pada 2020 dengan fokus utama adalah Penanaman Mangrove. Lalu pada 2021, INALUM mulai berinovasi untuk menciptakan kawasan wisata mangrove.
Selanjutnya pada 2022, INALUM mulai melakukan pengembangan Batik Mangrove dengan ibu-ibu dan perempuan sebagai pihak yang diberdayakan, dan pada 2023, INALUM melakukan inovasi lanjutan dalam upayanya menciptakan kawasan wisata yang komprehensif dan lengkap secara pelayanan.
Empat tahun perjalanannya, INALUM mampu menghadirkan solusi menghadapi tiga masalah krusial di Kawasan Pantai Sejarah yakni Prostitusi, Abrasi, dan Pertumbuhan Ekonomi.
Program positif yang merubah dosa jadi doa dan membuka rezeki baru bagi tiap keluarga di Batubara.
Program ini juga berhasil memberikan perlindungan dari abrasi laut dengan penanaman mangrovenya.
INALUM juga menorehkan nilai positif lain yang tak tak terhitung nilainya.
Selain penanaman 51.000 Bibit Bakau (Rhizophora Stylosa), INALUM juga melakukan konservasi 20 ha lahan mangrove dan perluasan konservasi di Pantai Jono, Desa Lalang dan Pantai di Kab. Asahan.
INALUM juga mengusulkan perubahan nama Pantai Sejarah menjadi Batubara Mangrove Park (BBMP).
Usulan itu diterima Masyarakat. Alhasil Pantai Sejarah kembali ramah bagi pengunjung dengan nama barunya Batubara Mangrove Park.
Wajah Pantai Sejarah yang suram telah menjelma dan menyisakan senyum hangat.
Kunjungan terus meningkat. Hari biasa rata-rata 100 pengunjung, jika weekend mencapai 1.500 hingga 2.000 pengunjung. Bahkan saat libur hari besar mencapai 5.000 pengunjung.
Setidaknya Rp 910 juta per tahun untuk pariwisata yang melahirkan 70 UMKM baru di Pantai Sejarah (pendapatan Rp 150-200 ribu/bulan)
Total kini sudah lebih dari 40 orang yang bekerja sebagai pengelola wisata Batubara Mangrove Park. Kemudian ada pula kelompok UMKM beranggotakan 20 orang, Membatik 20 orang, Tunjang Bakau 15 orang, dan Silvo Fishery 20 orang.
Belum lagi termasuk pekerja yang dibayar harian jika hari-hari libur dan kunjungan meningkat. Selain itu, INALUM dan KTCM juga berkolaborasi dalam memberikan keterampilan baru “membatik” bagi 20 orang perempuan sekaligus memberikan keterampilan digital marketing pada Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) Kolaborasi bersama 2 Kelompok Konservasi (KTCM dan Ikatan Mahasiswa Batu Bara (IMABARA) melahirkan Kelompok Kerajinan Batik (Batik Bunga Mangrove).
Kesadaran Perusahaan Jaga Keseimbangan Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati
Sebagai perusahaan pengolahan aluminium tanpa proses penambangan secara langsung, program konservasi yang dijalankan INALUM tidak didasari kebutuhan memulihkan kerusakan lingkungan, melainkan kesadaran perusahaan akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
“Konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan. Melalui berbagai program pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ungkap Benny Wiwoho selaku Direktur Strategic Support & Human Capital dalam kutipannya yang dilansir Medankinian.com, Sabtu (20/6/2026)
Lewat program unggulan Pohon Asuh, INALUM juga mendorong keberlanjutan pertumbuhan mangrove sekaligus memperluas partisipasi berbagai pemangku kepentingan melalui skema adopsi mangrove.
Daniel Hutahuruk selaku Ka-Grup Layanan Strategis INALUM turut menyampaikan komitmen tegas perusahaannya dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Melalui berbagai program konservasi yang dijalankan secara berkelanjutan, INALUM berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional perusahaan. Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan,” ungkap Daniel Hutahuruk. (MK/KR)