Udara Bersih, Lingkungan Hijau PT Inalum Berbuah Klasifikasi Proper Emas Berkat Program-Program Ini

DALAM beberapa kesempatan, saya acapkali mengunjungi PT Inalum. Sejak lama, bahkan ketika di akhir-akhir zaman opersional Jepang (Perusahaan Modal Asing) saya berkesempatan melihat-lihat, bagaimana Inalum menghasilkan ingot demi ingot.

Oleh: SYAIFULLAH

Maka, dalam pandangan pertama, ketika memasuki pabrik peleburan Kuala Tanjung, yang saya lihat adalah super keteraturan dan kerapian ala budaya Jepang. Safety kerja juga maksimal, ketat, disiplin dan tak kompromi. Saat itu sekira 2011.

Lalu isu pengambil-alihan Inalum akhirnya benar adanya. Pada 2013, perusahaan aluminium terbesar di Indonesia itu jadi BUMN. Apakah kualitas perusahaan skala dunia ini akan menurun setelah jadi milik negara? Banyak yang awalnya pesimis.

Namun, nyatanya Inalum malah melesat. Produksi terus bertambah saban tahun. Ekspansi bisnis dimulai di beberapa daerah. Skalanya raksasa pula. Yang terbaru adalah dimulainya pembangunan fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit–alumina–aluminium pada 6 Februari 2026 lalu di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek ini menandai langkah strategis INALUM bersama Grup MIND ID dalam mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta sejalan dengan arah kebijakan Asta Cita Presiden Prabowo yang menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama penguatan industri nasional.

Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menyebut bahwa hilirisasi ini akan membuat Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam komoditas strategis, khususnya aluminium. Ia berharap swasembada aluminium pada tahun 2030 dapat tercapai.

Dan yang menarik dan membanggakan, Inalum sebagai perusahaan dengan kaliber kakap, mereka sukses menjaga lingkungan dengan apik tanpa persoalan berarti.

Memang itulah wajah Inalum, bersih, rapi, hijau, minim sekali polusi. Pengalaman saya, polusi Inalum hanya akan terlihat ketika kita memasuki pabrik peleburan. Yaitu saat pembakaran peleburan yang manual. Itupun seketika dihirup sedemikiran rupa sehingga tak menghasilkan asap polusi di udara.

Upaya Inalum melakukan reboisasi DTA sekitaran Danau Toba. Foto: Website resmi Inalum.

Maka tak heran, ketika masyarakat sekitar perusahaan tak mengeluh dengan operasional Inalum yang sudah berlangsung sejak 1976 silam.

Begitu juga ketika saya menyambangi pembangkit listrik tenaga air di kawasan operasional Paritohan. Di sana bahkan kita bisa melihat, betapa asrinya lingkungan perusahaan yang menyatu dengan alam sekitar.

Udara bersih, suhu yang masih tetap dingin dan keberadaan fauna juga flora di kawasan perusahaan tetap dijaga. Kata karyawan yang bekerja di sana, tak jarang mereka masih sering melihat hewan-hewan langka berkeliaran di sana. Artinya, lingkungan masih asri dan sesuai dengan aslinya.

Begitu juga dengan kawasan perumahan karyawan di Tanjung Gading. Siapapun yang pertama kali kesana pasti akan langsung bercita-cita jadi karyawan PT Inalum.

Bagaimana tidak, kawasan perumahan Tanjung Gading itu begitu asri, rapi, bersih dan teratur dan terintegrasi ke kantor utama. Halte-halte berfungsi maksimal untuk mengantar jemput para karyawan. Bus-bus lalu lalang melayani karyawan.

Sebagai perusahaan BUMN, menjaga agar sifat perusahaan tetap ala Jepang saja mungkin sudah prestasi. Namun ternyata, PT Inalum mampu melakukan yang lebih baik. Salah satunya dalam upaya menjaga lingkungan, seperti amanat pemerintah.

Sejak 2022, Inalum sudah bolak-balik meraih penghargaan Proper. Yaitu program penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan, gawean kementrian lingkungan hidup. Proper ditandai dengan Emas sebagai kinerja perusahaan terbaik, lalu Proper hijau dan biru sebagai klasifikasi taat terhadap regulasi lingkungan. Nah, yang terburuk akan dilabel Proper merah atau hitam. Tapi itu bukan untuk label perusahaan sekelas Inalum.

Sejak 2022 itu, Inalum sudah meraih empat kali Proper Emas dan tiga kali Proper Hijau untuk pabrik peleburan dan unit PLTA.

Tak main-main, klasifikasi Proper Emas itu hanya diraih 39 perusahaan dari ribuan perusahaan di tanah air. Dan Inalum ada di daftar yang sedikit itu.

Apa saja yang membuat Inalum layak diganjar Emas?  Yang utama adalah penggunaan energi listrik tenaga air yang ramah lingkungan untuk produksi aluminium yang meningkat menjadi 95,51 persen pada 2025.

Inalum juga terus melaksanakan reboisasi di daerah tangkapan air sekitaran Danau Toba. Sejak 2018, reboisasi ini sudah mencapai seluas 2.304 hektare.

Di pabrik, pergantian armada operasional yang tadinya berbahan diesel menjadi listrik juga sudah menghasilkan lingkungan yang lebih bersih di sekitaran pabrik.

Yang utama adalah program yang langsung dirasakan masyarakat sekitar perusahaan. Yaitu di antaranya upaya mengatasi masalah sampah, pengentasan kemiskinan, pendidikan hingga penyaluran CSR yang maksimal.

“Apa yang kami lakukan adalah komitmen perusahaan. Bersama pemangku kepentingan, kami terus komitmen pula berkontribusi untuk masyarakat,” kata Dirut Inalum Melati Sarnita.

 

(*)