Banjir dan Cuaca Buruk Picu Kelangkaan BBM di Medan: Masyarakat ‘Menjerit’
Medankinian.com, Medan– Banjir dan cuaca buruk di Kota Medan disebut pemicu menipisnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di sejumlah titik di Kota Medan, Sumatra Utara.
Kondisi ini semakin membuat masyarakat terjepit dan menjerit. Di tengah kondisi banjir, kelangkaan BBM jenis Pertalite menyulitkan masyarakat beraktivitas.
Antrean tampak mengular di sejumlah SPBU.
Sejak Jumat (28/11/2025) hingga Sabtu (20/11/2025) pagi ini, beberapa SPBU dibanjiri pengendara bermotor. Bahkan, ada sejumlah SPBU yang menulis keterangan habis.
SPBU Jalan Cemara, SPBU Jalan Delitua, dan SPBU Jalan Merak Jingga, Menteng dan SM Raja sempat terpantau kosong.
Di SPBU Jalan HM Yamin dan juga SM Raja stok pertalite dan Pertamax sama-sama tidak tersedia.
“Gak ada di mana-mana udah keliling juga. Jangankan eceran SPBU pun bisa kosong di daerah SM Raja sekitarnya,” kata Desi, Sabtu (29/11/2025) pagi.
Sementara itu, SPBU yang masih menjual pertalite dan Pertamax menjadi titik penumpukan kendaraan.
Antrean panjang terlihat di SPBU Jalan Ringroad, SPBU Jalan Adam Malik, SPBU Jalan Polonia dan SPBU Jalan KL Yos Sudarso.
“Panjang kali antreannya sampai ke badan jalan. Itupun nggak tahu juga kendaraan yang antre itu masih kedapatan BBM atau nggak. Udah banjir di mana mana, nyari bensin pun susah kali,” sebut warga lainnya
Kapal Pengangkut Pertalite Tertahan Akibat Cuaca Buruk
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan kekosongan BBM terjadi karena dua kapal pengangkut pertalite dan biosolar tertahan di perairan Belawan sejak 23 November 2025 akibat cuaca buruk.
“Namun membaiknya kondisi cuaca mulai memberikan dampak positif bagi proses pemulihan. Gelombang laut yang sebelumnya tinggi kini telah mereda sehingga kapal pengangkut BBM dapat bersandar di Fuel Terminal Medan Group. Sejak hari ini, proses recovery dan normalisasi penyaluran BBM kembali dilakukan ke SPBU-SPBU terdampak secara bertahap,” ungkapnya, Jumat (28/11/2025).
Selain terhambatnya pasokan laut, jalur distribusi darat ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir dan longsor juga mengalami gangguan.
Berdasarkan laporan operasional hingga 27 November 2025 pukul 21.00 WIB, sebanyak 23 dari 406 SPBU di Sumut terdampak bencana.
“Stok BBM di lembaga penyalur tercatat 4.489 KL Gasoline dan 1.910 KL Gasoil. Pada penyaluran LPG, 15 agen dan 5 SPBE juga terdampak, terutama karena kerusakan akses jalur logistik di beberapa titik, termasuk rute Pangkalan Susu – Brandan,” ucapnya.
Pertamina terus memperkuat langkah penanganan darurat untuk menjaga kelancaran distribusi energi di wilayah Sumatera Utara, yang hingga saat ini masih berada dalam kondisi bencana akibat hujan ekstrem, angin kencang, dan tanah longsor di sejumlah daerah.
“Kami memastikan suplai terus bergerak dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta membeli BBM sesuai kebutuhan,” sebutnya.
Untuk LPG, tantangan utama masih berada pada akses darat menuju wilayah Pangkalan Susu yang mengalami kerusakan. Sebagai langkah mitigasi, Pertamina melakukan Reguler Alternatif Supply (RAE) dari IT Dumai untuk mendukung suplai LPG ke sejumlah SPPBE yang aksesnya terhambat.
“Hingga hari ini, beberapa SPPBE tercatat masih dapat menyalurkan LPG ke Agen, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terlayani. Pertamina menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan LPG untuk kebutuhan memasak di rumah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah-langkah percepatan dilakukan melalui penambahan mobil tangki dari Dumai, pemanfaatan skid tank, penggunaan AE Suplai, serta penugasan awak mobil tangki dari luar region untuk mempercepat recovery distribusi.
“Pertamina juga menyiapkan perangkat pendukung seperti Starlink dan genset pada titik operasional tertentu guna menjaga kelancaran koordinasi di lapangan. Tim kami bergerak menyesuaikan pola suplai, melakukan alih suplai antar terminal, dan mengoptimalkan armada untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Fahrougi. (MK/Sdf)