Menu

Mode Gelap

Opinion · 16 Jun 2021 07:03 WIB

Peran Hutan Mangrove Terhadap Pengendalian Bencana


					Hutan Mangrove Perbesar

Hutan Mangrove

INDONESIA ialah negara yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 km serta merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia, dengan luas perairan laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi, yang merupakan 71% dari keseluruhan wilayah Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki pulau yang berjumlah 17.504, laut merupakan salah satu penopang hidup bangsa Indonesia (KKP RI, 2019).

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Luas hutan mangrove Indonesia mencapai 3,49 Juta Ha, tetapi 52% atau 1,82 juta Ha hutan mangrove Indonesia dalam kondisi rusak. Menurut Raharjo, et al., (2015), Mangrove merupakan salah satu komponen ekosistem wilayah pesisir yang berperan cukup penting baik di dalam memilihara produktivitas perairan serta menunjang kehidupan penduduk wilayah pesisir tersebut.

Salma Harahap

Secara ekologi maupun ekonomi, hutan mangrove penting karena sebagai salah satu ekosistem paling kaya karbon pada daerah tropis (Donato dkk. 2011; Alongi 2014; Basyuni dkk. 2015). Hutan mangrove berperan penting pada siklus karbon biogeokimia serta pengaturan iklim dan berkontribusi secara potensial dalam mengurangi emisi gas rumah kaca serta memfasilitasi penyeimbangan emisi CO antropogenik (Bouillon 2011; Siikamaki et Al. 2012; Alongi 2014; Basyuni dkk. 2015).

Selain fungsi ekonomi dan ekologi, ekosistem mangrove mempunyai fungsi penting dalam mitigasi bencana. Peran mangrove dalam mitigasi bencana merupakan salah satu fungsi ekologi dari hutan mangrove, seperti mencegah banjir karena adanya tsunami, mengurangi gempuran permukiman penduduk di wilayah pantai dari badai dan angin laut, mencegah erosi dan intrusi air laut ke daratan, serta sebagai penyedia karbon yang cukup tinggi sehingga turut andil dalam mencegah bencana perubahan iklim dan pemanasan global.

Menurut Rahmadi (2018) kelestarian hutan mangrove dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti bencana alam, salinitas, suhu, pH, , serta aktivitas manusia. Aktivitas masyarakat seperti perubahan penggunaan lahan atau perubahan tutupan lahan menyebabkan timbulnya kerusakan alam yang berpengaruh terhadap keberadaan hutan mangrove. Perubahan penggunaan lahan dan tutupan lahan (LULCC) yang disebabkan oleh modifikasi lingkungan akibat aktivitas masyarakat berdampak besar terhadap kemampuan ekosistem dalam penyerapan karbon (Hamilton dan Casey 2016). Berdasarkan perkiraan Hamilton dan Friess (2018), meningkatnya emisi sekitar 0,3 Pg CO2 / tahun yang disebabkan oleh hilangnya hutan mangrove pada tahun 2000-2012 sebesar 0,26% –0,66% setiap tahunnya.

Menurut Kuswando (2017), keberadaan hutan mangrove sangat penting secara ekologis, bukan hanya sebagai habitat serta tempat memijahnya berbagai fauna dan mengurangi emisi karbon penyebab terbesar dari efek rumah kaca maupun pemanasan global, tetapi juga mempunyai peran yang besar terhadap mitigasi dari berbagai bencana alam, seperti banjir, badai/angin laut, dan tsunami (Kuswandono, 2017). Salah satu persoalan terkait bencana di wilayah pesisir adalah subsiden tanah atau penurunan tanah. Kejadian ini antara lain disebabkan karena pengambilan air tanah yang berlebihan (Kelompok Keahlian Geodesi ITB, 2007).

Menurut Handayani SK dan Hewindai YT (2019), peran vegetasi mangrove dalam mitigasi bencana di wilayah pesisir antara lain sebagai berikut: Mengurangi Gelombang, Badai, dan Abrasi
Setiap jenis mangrove yang beragam mempunyai sistem perakaran yang berbeda yang menciptakan kombinasi perakaran yang kompak karena memiliki kekuatan serta bentuk perakaran yang menancap jauh kedalam habitat. Memperlambatnya pergerakan air pasang surut, berkurangnya erosi, serta meningkatnya sedimentasi substrat yang berlumpur merupakan kemampuan jalinan tak beraturan ke sisi lateral dari berbagai perakaran mangrove. Hal tersebut berperan dalam menahan gelombang serta meningkatnya permukaan air laut. Sistem perakaran yang padat dapat membantu menipiskan gelombang besar (Harada, Imamura, & Hiraishi, 2002).

Pada percobaan hidrolik dengan model struktur sistem untuk mengetahui pengaruh hutan mangrove dalam mengurangi kekuatan gelombang tsunami, Harada, Imamura, & Hiraishi (2002) membuktikan bahwa hutan mangrove efektif mengurangi kekuatan gelombang tsunami. Poonthip, Wanxiao & Tonny (2008) dengan metode Sistem Informasi Geografis (SIG) serta penginderaan jauh membuktikan bahwa di lokasi dengan luas hutan mangrove kecil mengalami kerusakan lebih besar dibanding dengan kerusakan di lokasi dengan hutan mangrove yang luas. Lebar optimal hutan mangrove yang paling efektif untuk mengurangi kerusakan oleh gelombang tsunami adalah antara 1000 sampai 1500 m.

Mengurangi Dampak Tsunami

Menurut Spalding et al. (2014) menyatakan bahwa hutan mangrove yang luas mampu meminimalisir kekuatan tsunami, mengurangi korban nyawa manusia serta kerusakan pemukiman di area belakang hutan mangrove. Tinggi gelombang pasang surut berkurang 13-66% per 100 m hutan mangrove, tinggi gelombang badai berkurang 5 – 50 cm per km mangrove, serta ratusan meter hutan mangrove yang dibutuhkan untuk mengurangi tsunami 5 – 30%. Fungsi ekosistem mangrove sebagai penahan gelombang pasang surut, gelombang tinggi, tsunami, erosi, kenaikan permukaan laut.

Angin dan gelombang besar berkurang dengan cepat ketika melewati hutan mangrove. Sabuk hutan mangrove (green belt) yang semakin luas dapat mengurangi secara signifikan dampak banjir di daerah pinggir pantai. Selain itu, salah satu fungsi ekologis hutan mangrove dalam melindungi pantai dari bencana adalah meminimalisir badai maupun topan, mitigasi tsunami, mengontrol banjir, serta perlindungan pantai dari erosi (Kathiresan K., 2000).

Mencegah Intrusi Air Laut

Intrusi air laut ialah salah satu fenomena saat air laut mencemari air tanah sehingga air tanah tidak dapat digunakan kembali oleh makhluk yang hidup di atasnya. Vegetasi mangrove mempunyai kemampuan dalam mencegah intrusi air laut ke daratan. Hal ini dikarenakan organ mangrove mampu untuk menyerap tingginya kadar garam yang terdapat pada habitat.

Daun serta akar merupakan organ mangrove yang melakukan kemampuan tersebut. Daun mangrove memiliki kelenjar serta stomata yang mampu melakukan ekskresi garam yang cukup tinggi. Hal tersebut memungkinkan tumbuhan mangrove menjadi filter terhadap air laut, sehingga dapat mencegah masuknya garam ke wilayah daratan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Anggraini dan Muh (2017) dengan judul penelitian Analisis Jasa Ekosistem Mangrove Dalam Mengurangi Erosi Pantai Di Sebagian Pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang. Dengan tujuan penelitian adalah mengetahui jasa ekosistem mangrove di kawasan mangrove Kecamatan Rembang, menghitung besarnya nilai jasa ekosistem mangrove dalam pengurangan erosi pantai, dan membandingkan nilai ekosistem mangrove.

Jasa regulasi/pengatur merupakan hasil kemampuan ekosistem mengatur iklim, siklus air dan biokimia, proses permukaan tanah, dan berbagai proses biologis (DEWHA, 2009). Bentuk aktivitas dari jasa regulasi atau pengatur diketiga desa berupa pemecah gelombang yang sekaligus melindungi tambak dari erosi pantai, penyedia keaneragaman hayati, dan penghasil karbon.

Pemecah gelombang berfungsi untuk mengurangi kekuatan gelombang laut yang menghantam ke daratan. Berkurangnya kekuatan gelombang selanjutnya akan mempengaruhi berkurangnya kejadian erosi pantai. Jasa pengurangaan erosi pantai di Desa Pasarbanggi, Tireman, dan Kabongan Lor dapat dibuktikan dengan perubahan garis pantai di Kecamatan Rembang dari tahun 1995 sampai 2015. Pengamatan perubahan garis pantai di Kecamatan Rembang menggunakan pengolahan citra Landsat 5 TM dan Landsat 8 OLI TIRS dengan metode on-screen digitation. Penyedia keaneragaman hayati dapat dilihat dari adanya penelitian yang di lakukan oleh Puspita (2015).

Berdasarkan penelitian tersebut terdapat beberapa jenis tanaman pesisir yang dapat ditemui di Desa Pasarbanggi dimana jenis tersebut juga biasa dijumpai di Desa Tireman dan Kabongan Lor. Jasa pengatur atau regulasi dari ekosistem mangrove salah satunya adalah penghasil karbon. Akan tetapi, jasa ekosistem mangrove dalam mengatur karbon pada penelitian ini tidak diteliti lebih rinci karena keterbatasan data.
Erosi pantai merupakan salah satu ancaman besar bagi masyarakat yang tinggal di pesisir.

Bagi masyarakat Rembang terutama Desa Pasarbanggi, Tireman, dan Kabongan Lor, erosi pantai menyebabkan jebolnya tanggul tambak yang berimbas pada rusaknya tambak masyarakat. Berkembangnya ekosistem mangrove di Kecamatan Rembang merupakan salah satu gambaran adaptasi masyarakat pesisir Rembang terhadap erosi pantai yang terjadi. Berdasarkan hasil wawancara dan identifikasi lapangan, jasa pengatur yang dimiliki oleh ekosistem mangrove di Desa Pasarbanggi, Tireman, dan Kabongan Lor terbagi menjadi tiga manfaat.

Ketiga manfaat tersebut antara lain
Pemecah gelombang
Pelindung tambak dari erosi pantai
Menjaga keanekaragaman hayati.

Nilai pemecah gelombang Penentuan biaya pemecah gelombang didasarkan pada Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) bidang pekerjaan umum yang dikeluarkan oleh BALITBANG PU (2012). Berdasarkan AHSP didapat biaya pembangunan infrastruktur pemecah gelombang (break water) ukuran 150 x 20 x 5 m (panjang x lebar x tinggi) sebesar Rp 2.921.147.000,00. Apabila nilai tersebut dikonversikan untuk ekosistem mangrove di ketiga desa maka didapat nilai sepanjang Rp.46.609.626.790 dengan panjang garis pantai sebesar 2393,39 m untuk Desa Pasarbanggi, Rp.36.206.448.610 dengan panjang garis pantai sepanjang 1859,19m untuk Desa Tireman, dan Rp. 1.818.472.430 dengan panjang garis pantai sepanjang 933,78m untuk Desa Kabongan Lor.

Identifikasi jasa ekosistem diperoleh dari hasil lapangan sedangkan penilaian jasa ekosistem mangrove menggunakan pendekatan valuasi ekonomi. Pendekatan valuasi ekonomi digunakan untuk mengetahui nilai jasa ekosistem. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di sebagian Kecamatan Rembang memiliki jasa penyedia, jasa regulasi, dan jasa budaya. Jasa penyedia berupa kegiatan penghasil sumber pakan bagi organisme di dalam ekosistem ataupun bagi masyarakat sekitar, jasa regulasi berupa pelindung tambak dari erosi pantai, dan jasa budaya yang hanya ditemukan di Desa Pasarbanggi berupa kegiatan pariwisata. Nilai dari jasa ekosistem di masing-masing desa mempunyai nilai yang berbeda-beda. Nilai jasa ekosistem terbesar terdapat di Desa Tireman dengan nilai sebesar Rp.6.691.321.600/tahun.

Referensi

Alongi DM, Murdiyarso D, Fourqurean JW, Kauffman JB, Hutahaean A, Crooks S, lovelock CE, Howard J, Herr D, Fortes M, Pidgeon E. (2016).Indonesia’s blue karbon: a globally significant and vulnerable sink for seagrass and mangrove karbon. Wetlands ecology and management, 24(1), 3-13.
Anggraini DD, Muh AM. 2016. Analisis Jasa Ekosistem Mangrove Dalam Mengurangi Erosi Pantai Di Sebagian Pesisir Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang. Jurnal Bumi Indonesia. 6 (3).
Basyuni M , Putri LAP, Murni MB. 2015. Implication of Land-Use and Land-Cover Change into Carbon Dioxide Emissions in Karang Gading and Langkat Timur Wildlife Reserve, North Sumatra, Indonesia. JMHT Vol. XXI, (1): 25-35
Donato DC, Kauffman JB, Murdiyarso D, Kurnianto S, Stidham M, Kanninen M. 2011. Mangroves among the most carbon-rich forests in the tropics. Journal of Nature Geoscience
Handayani SK dan Hewindai YT. 2019. Peran Hutan Mangrove dalam Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir. Peran matematika,sain dan teknologi dalam kebencanaan. Universitas Terbuka, Pondok cabe, pp. 45-67
Harada, K., Imamura, F., & Hiraishi, T. L. (2002). Experimental study on the effect in reducing tsunami by the coastal permeable structures. International Society of Offshore and Polar Engineers Conference. The International Society of Offshore and Polar Engineers ISBN 1-880653- 58-3 (Set); ISSN 1098-6189 (Set).
Kathiresan, K. (2012). Importance of mangrove ecosystem. International Journal of Marine Science, 2 (10): 70-89
Kuswandono, A. (2017). Role of coordinating ministry of maritime affairs in sustainable management of Indonesian mangrove and its ecosystem. International Conference on Mangrove Ecosystems, Bali, 18 April 2017.
Spalding, M., McIvor, A., Tonneijck, F., Tol, S. & van Eijk, P. (2014). Mangroves for coastal defence. Guidelines for coastal managers and policy makers. Wageningen: Wetlands International and The Nature Conservancy.

(*)

Artikel ini telah dibaca 382 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Fraksi Golkar Minta Penggunaan APBD Lebih Efisien & Tepat Sasaran

24 November 2022 - 01:25 WIB

For Some Trump Voters, Coronavirus Was The Last Straw

18 November 2020 - 18:52 WIB

Top 10 TV Shows to Binge Watch During Lockdown

16 November 2020 - 18:52 WIB

East Ventures to raise funds to produce Covid-19 test kits

14 November 2020 - 18:52 WIB

Your Blonde Hair Needs These Purple Shampoos, For Sure

13 November 2020 - 18:52 WIB

Coffee Industry Must Find New Ways to Stay Afloat

7 November 2020 - 18:53 WIB

Trending di Dunia